Sunday, June 26, 2011

Insomnia

Intervensi Farmakologi Dalam Mengatasi Insomnia

Tidur merupakan salah satu kebutuhan yang sang sangat penting bagi manusia karena tidur mengendalikan irama kehidupan kita sehari-hari. Setiap manusia menghabiskan paling tidak seperempat atu sepertiga dari harinya untuk tidur.
Tidur adalah suatu proses yang diperlukan oleh manusia untuk terjadinya pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel yang telah rusak (natural healing mechanism), memberi waktu organ tubuh untuk beristirahat maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh.
Bagi sebagian besar orang tidur adalah pekerjaan yang mudah semudah membalikkan telapak tangan, namun bagi sebagian orang tidur merupakan suatu hal yang sangat sulit. Di Amerika, satu dari tiga orang dewasa melaporkan kesulitan untuk tertidur dan atau menjaga agar tetap tertidur, dengan 17% diantaranya melaporkan masalah ini sebagai hal yang signifikan. Kondisi sulit tidur saat ini lebih populer disebut sebagi insomnia.
Dari pengamatan penulis, jumlah penderita insomnia tidak pernah mengalami penurunan bahkan cenderung semakin meningkat tiap tahunnya dan ada kemungkinan semakin meningkat. Beberapa ahli menyebutkan bahwa insomnia merupakan simptom sekunder dari depresi yang akan hilang dengan sendirinya jika kita mampu mengatasi penyebab utama dari depresi yang dialami pasien.
Menurut pendapat penulis, insomnia adalah suatu kondisi yang bisa menjadi sebab sekaligus juga menjadi akibat dari depresi. Seseorang yang menderita insomnia akan mengalami kelelahan yang berlebihan di mana hal ini dapat mengganggu aktivitas keseharian pasien, produktivitas kerja menurun, hilang konsentrasi, bahkan dapat juga muncul penyakit-penyakit berbahaya akibat insomnia, kondisi-kondisi seperti ini kemungkinan dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan tertekan yang berujung depresi. Sebaliknya, individu yang sedang mengalami depresi akibat dari permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapinya akan sulit tertidur karena ia terus-menerus merasa gelisah, hal ini dapat mengganggu siklus tidurnya dan jika individu tidak dapat segera mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya, siklus tidurnya akan menjadi berantakan samasekali.

Insomnia

Pengertian
Secara etimologi, istilah insomnia berasal dari bahasa Latin in-, yang artinya ‘tidak’ atau ‘tanpa’ dan somnus yang artinya ‘tidur’. Sedangkan menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-IV) mendefinisikan insomnia sebagai kesulitan yang berulang untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, merasa tidak segar saat bangun di pagi hari dan mengalami suatu episode tidur dengan kualitas yang buruk. Di dalam DSM-IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-IV-Text Revision), insomnia diklasifikasikan ke dalam axis I yaitu, Gangguan Klinis atau Kondisi-Kondisi Lainnya Yang Mungkin Menjadi Fokus Perhatian Klinis dan masuk ke dalam kategori gangguan tidur.
.
Klasifikasi Insomnia
The International Classification of Sleep Disorder mengklasifikasikan insomnia ke dalam 11 kategori sebagai berikut :
1. Insomnia Akut
Insomnia kategori ini disebabkan oleh kondisi stres individu di mana stressor-stressornya dapat diidentifikasi, misalnya perubahan hubungan interpersonal, kehilangan orang dekat, stress kerja, kehilangan pekerjaan dan lain sebagainya. Insomnia jenis ini dapat hilang dengan sendirinya ketika individu dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dialaminya atau individu mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi tersebut.

2. Insomnia Kronis
Ciri-ciri dari insomnia kronis adalah kesulitan yang berulang untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, durasi tidur yang tidak teratur, dan mengalami tidur yang berkualitas buruk yang terjadi secara terus-menerus selama paling tidak empat minggu dan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari individu.

3. Insomnia Psikofisiologis (Insomnia Primer)
Para pasien memiliki kecenderungan untuk sulit tidur atau terjadi peningkatan pergerakan di atas tempat tidur (gelisah) yang diindikasikan oleh satu atau lebih kondisi di bawah ini :
 Fokus yang terlalu berlebihan dan kecemasan mengenai tidur
 Kesulitan untuk tertidur ketika ada keinginan untuk tidur, tapi tidak mengalami kesulitan tidur di tengah aktivitas-aktivitas yang membosankan di mana sebenarnya individu tersebut tidak memiliki keinginan tidur
 Lebih mudah tidur selain di rumahnya sendiri
 Tidak mampu merilekskan tubuh saat akan tidur

4. Insomnia Paradoksial
o Pasien melaporkan adanya pola yang kronis yaitu tidur yang terlalu singkat atau samasekali tidak tidur setiap malamnya. Biasanya pola ini diselingi dengan tidur normal selama beberapa hari kemudian hari-hari berikutnya pasien kembali tidak bisa tidur.
o Pasien dengan insomnia jenis ini dapat menyadari keadaan di sekitarnya meskipun dalam keadaan tertidur, misalnya pasien masih dapat mendengar suara-suara berisik di sekitarnya saat ia tidur.

5. Insomnia Akibat Kondisi Medis
Individu mengalami insomnia karena ia memiliki penyakit tertentu yang menyebabkan tidurnya terganggu.

6. Insomnia Akibat Gangguan Mental
Insomnia kadang-kadang dihubungkan dengan gangguan mental, pada beberapa kasus, insomnia muncul beberapa hari atau beberapa hari sebelum munculnya gangguan mental.

7. Insomnia Akibat Penyalahgunaan Obat dan Zat
Penderita memiliki riwayat atau sedang mengalami ketergantungan akibat penyalahgunaan zat di mana diketahui zat-zat tersebut memiliki efek samping yang dapat mengganggu tidurnya.

8. Insomnia Yang Tidak Diakibatkan Zat ataupun Kondisi Fisiologis, Tidak Terspesifikasi
Diagnosis ini digunakan untuk bentuk-bentuk insomnia yang tidak dapat diklasifikasikan di manapun dalam ICSD-2.

9. Tidur yang Tidak Cukup
Penyebab :
o Jadwal tidur yang tidak teratur.
o Penggunaan rutin produk-produk yang mengandung alkohol, nikotin,atau kafein, khususnya sesaat sebelum tidur.
o Melakukan sesuatu yang menstimulasi mental, aktivitas fisik, atau aktivitas yang mengecewakan emosi sesaat sebelum tidur.
o Sering menggunakan tempat tidur untuk melakukan aktivitas-aktivitas selain tidur.
o Kegagalan untuk menciptakan lingkungan yang sesuai untuk tidur.
10. Insomnia Idiopatis
Insomnia jenis ini merupakan efek jangka panjang dari insomnia yang dialami sejak masa kanak-kanak.

11. Perilaku Insomnia pada Anak-Anak
o Tipe 1
 Anak-anak membutuhkan kondisi-kondisi khusus agar bisa tertidur
 Anak-anak terbangun di tengah malam dan memerlukan campur tangan orangtua agar ia dapat tertidur kembali

o Tipe 2
 Anak-anak kesulitan untuk mulai tidur atau tidak dapat mempertahankan tidurnya
 Anak-anak menolak untuk tidur pada waktuyang sudah ditentukan atau menolak untuk kembali ke tempat tidurnya setelah terbangun di tengah malam

FISIOLOGI TIDUR
Fisiologi tidur dapat diterangkan melalui gambaran aktivitas sel-sel otak selama tidur. Aktivitas tersebut dapat direkam dalam alat EEG. Untuk merekam tidur, cara yang dipakai adalah dengan EEG Polygraphy. Dengan cara ini kita tidak saja merekam
gambaran aktivitas sel otak (EEG), tetapi juga merekam gerak bola mata (EOG) dan tonus otot (EMG). Di dalam otak, terdapat empat macam gelombang, yaitu :
1. Gelombang Alfa
Pada keadaan mata tertutup dan relaks, gelombang Alfa akan muncul, dan akan menghilang sesaat kita membuka mata.

2. Gelombang Beta
Gelombang ini merupakan gelombang dominan pada keadaan terjaga terutama bila mata terbuka. Pada keadaan tidur REM juga muncul gelombang Beta.

3. Gelombang Teta
Gelombang Teta dengan amplitudo rendah tampak pada keadaan terjaga pada anak-anak sampai usia 25 tahun dan usia lanjut di atas 60 tahun. Pada keadaan normal orang dewasa, gelombang teta muncul pada keadaan tidur (stadium 1, 2, 3, 4).

4. Gelombang Delta
Pada keadaan normal, gelombang Delta muncul pada keadaan tidur (stadium 2, 3, 4).

STADIUM TIDUR
1. Stadium Jaga (Stadium W = wake)
EEG : Pada keadaan relaks, mata tertutup, gambaran didominasi oleh gelombang Alfa.
EOG : Biasanya gerakan mata berkurang. Kadang-kadang terdapat artefak yang disebabkan oleh gerakan kelopak mata.
EMG : Kadang-kadang tonus otot meninggi.

2. Stadium 1
EEG : Biasanya terdiri dari gelombang campuran Alfa, Beta dan kadang-kadang Teta.
EOG : Tak terlihat aktifitas bola mata yang cepat.
EMG : Tonus otot menurun dibandingkan dengan pada Stadium W.

3. Stadium 2
EEG : Biasanya terdiri dan gelombang campuran Alfa, Teta dan Delta.
EOG : Tak terdapat aktivitas bola mata yang cepat.
EMG : Kadang-kadang terlihat peningkatan tonus otot secara tiba-tiba, menunjukkan bahwa otot-otot tonik belum seluruhnya dalam keadaan rileks.

4. Stadium 3
EEG : Persentase gelombang Delta berada antara 20 - 50%.
EOG : Tak tampak aktivitas bola mata yang cepat.
EMG : Gambaran tonus otot yang lebih jelas dari stadium 2.

5. Stadium 4
EEG : Persentase gelombang Delta mencapai lebih dari 50%.
EOG : Tak tampak aktivitas bola mata yang cepat.
EMG : Tonus otot menurun dari pada stadium sebelumnya.

6. Stadium REM
EEG : Terlihat gelombang campuran Alfa, Beta dan Teta.
EOG : Terlihat gambaran REM (Rapid Eye Movement) yang
khas.
EMG : Tonus otot sangat rendah

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insomnia
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi insomnia antara lain adalah faktor-faktor genetis dan neurobiologis. Beberapa penelitian mengindikasikan kerentanan genetis yang berbeda-beda terhadap pengaruh-pengaruh eksogenus seperti caffeine, rokok, dan stress. Penelitian-penelitian klinis juga menunjukkan bahwa pasien-pasien dengan insomnia kronis menunjukkan kecenderungan peningkatan aktivitas otak. Lebih jauh lagi, pasien-pasien dengan insomnia memliki suhu tubuh, urine dan sekresi adrenalin yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien tanpa insomnia.
Insomnia juga dipengaruhi oleh lingkungan fisik yang dapat berupa suara bising didekat tempat tinggal, misalnya bunyi mesin pabrik atau kereta api yang melintas. Suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin, demikian pula perubahan suasana lingkungan, dapat pula menimbulkan insomnia.

Faktor-Faktor yang Memicu
Faktor-faktor yang memicu insomnia antara lain adalah terjadinya perubahan struktur kimia otak dan hormon otak, serta adanya gangguan psikiatrik seperti kecemasan, depresi dan pemakaian zat-zat tertentu.
Terlalu banyak minum kopi atau minuman berkafein, mengisap rokok, atau minum minuman beralkohol menjelang tidur, dapat memicu insomnia. Kafein dapat meningkatkan denyut jantung, alkohol menguras vitamin B yang mendukung sistem saraf, dan nikotin bersifat neurostimulan yang justru membangkitkan semangat.
Berikut ini adalah beberapa kondisi medis yang dapat menjadi pemicu insomnia :
o Sindrom pain kronis
o Sindrom kelelahan kronis
o Gagal jantung
o Angina di malam hari akibat penyakit jantung
o Acid reflux disease (GERD)
o Gangguan pulmonari kronis (COPD)
o Asma nocturnal
o Gangguan tidur apnea
o Penyakit-penyakit degeneratif seperti Parkinson, dan Alzheimer
o Tumor otak, stroke, atau trauma otak

Faktor-Faktor yang Memperparah
Faktor yang dapat semakin memperparah insomnia adalah adanya kesalahan konsepsi mengenai tidur normal dan adanya kekhawatiran yang berlebihan tentang efek percabangan dari kekurangan tidur terhadap kehidupan sehari-harinya. Akibatnya, individu dengan insomnia akan menjadi lebih terobsesi dengan tidurnya sendiri dan mencoba terlalu keras agar dirinya bisa tertidur. Keyakinan-keyakinan irasional ini seringkali perilaku-perilaku yang merusak tidur seperti membalas dendam kekurangan tidur di malam sebelumnya dengan tidur siang di hari berikutnya atau tidur terlampau larut yang akan merusak keseimbangan alami kebutuhan tidur mereka serta merusak kebiasaan jam tidur mereka.
Berikut ini adalah beberapa kesalahan anggapan mengenai tidur :
 Kita membutuhkan sedikitnya delapan jam tidur setiap malam
 Kita harus menggantikan tidur yang kurang dengan menambah jam tidur pada kesempatan lain
 Obat tidur dapat membantu kita untuk tertidur
 Minum minuman beralkohol dapat membantu kita untuk tertidur
 Masalah tidur bukanlah suatu hal yang serius
 Insomnia akan hilang dengan sendirinya jika kita mengabaikannya

Kelompok Yang Beresiko Tinggi Mengalami Insomnia
Penelitian yang dilakukan oleh Strine menunjukkan bahwa wanita memiliki kesempatan 2,4 kali lebih besar untuk mengalami insomnia daripada pria. Namun hingga saat ini masih belum diketahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan hal tersebut. Berikut ini adalah kelompok-kelompok tertentu yang memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami insomnia :
• Orang yang sedang bepergian
• Pekerja dengan sistem kerja shift yang sering bergantian shift
• Lanjut Usia
• Pelajar atau remaja
• Wanita hamil
• Wanita yang sudah mengalami menopause

Dampak Insomnia
Berikut ini adalah beberapa dampak yang ditimbulkan oleh insomnia :
 Turunnya produktivitas kerja individu
 Kualitas hidup yang menurun
 Kesehatan fisik menurun
 Depresi
 Gangguan konsentrasi
 Kualitas hubungan interpersonal dengan orang lain memburuk
 Secara tidak langsung dapat meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas


Riwayat Klinis Pasien

Riwayat Tidur Pasien
Yang tercakup di sini adalah hal-hal yang berkaitan dengan kebiasaan tidur pasien, antara lain :
 Timing dari Insomnia
Pasien harus ditanyai mengenai kesulitan tidur apapun yang dialaminya, frekuensi bangun lebih awal di pagi hari, problem untuk mengawali tidur, dan apakah pasien merasa mengantuk saat mereka di tempat tidur.
 Jadwal Tidur
Pasien harus ditanyai jam berapa biasanya mereka tidur di malam hari dan jam berapa dia terbangun di pagi hari.
 Lingkungan Sekitar Saat Tidur
Pasien harus ditanyai mengenai kondisi-kondisi sekitarnya seperti temperatur, kenyamanan tempat tidur, kebisingan, dan pencahayaan. Dapat ditanyakan juga apakah pasien merasa nyaman tidur di tempat tidurnya sendiri atau merasa lebih nyaman tidur di kursi atau di lingkungan yang asing.
 Kebiasaan Tidur
Yang harus ditanyakan antara lain aktivitas-aktivitas yang dilakukan sebelum tidur dan apa yang dilakukan ketika ia tidak bisa tertidur atau ketika terbangun pada tengah malam.
 Indikasi Gangguan Tidur Lainnya
Pasien juga harus ditanyai apakah ia memiliki gangguan tidur lain seperti apnea dan sindrom restless.
 Efek Yang Dirasakan Pada Siang Hari
Apakah pasien memiliki keluhan-keluhan seperti kepenatan, kelelahan, kekurangan energi, merasa terganggu, penurunan performansi kerja, dan kesulitan konsentrasi.


Pendekatan Medis dalam Penanganan Insomnia

Pada awal abad ke 19, pengobatan untuk insomnia adalah dengan menggunakan alkohol dan obat-obatan opioid. Pada akhir abad ke 19, digunakan kombinasi antara kloral hidrat dan alkohol, dan di awal abad ke 20, barbiturat digunakan hingga sampai pada awal tahun 1960an ketika Benzodiazepine Reseptor Agonists (BZRAs) pertama kali diakui manjur untuk mengobati pasien-pasien insomnia.

Benzodiazepin Receptor Agonist (BzRA)
Merupakan pengobatan untuk insomnia yang paling umum digunakan, yang bekerja pada reseptor GABA. BZRA digolongkan menjadi tiga tipe yaitu tipe long-acting misalnya flurazepam dan quazepam, intermediate-acting misalnya temazepam dan estazolam dan short-acting misalnya triazolam. Penggunaan BZRAs tipe intermediate-acting hingga saat ini masih dapat ditemukan. Namun pada saat ini penggunaan flurazepam dan quazepam sudah jarang karena adanya efek samping berupa sedasi sepanjang hari, kerusakan kognisi, dan peningkatan resiko jatuh bagi pasien yang berusia lanjut.

Sedatif-hipnotik, Nonbenzodiazepin Reseptor Agonist
Obat-obatan ini memiliki struktur nonbenzodiazepin dan mengikat subunit alpha1 dari resptor GABA dengan lebih spesifik. Jenis obat-obatan yang dipakai antara lain :
 Zaleplon
Sedatif-hipnotik dari kelas pyrazolopyrimidin, memiliki waktu aksi yang sangat singkat, merupakan pilihan yang cocok untuk pengobatan gangguan dalam memulai tidur.
Peringatan : kegagalan penurunan insomnia setelah 7-10 hari mengindikasikan perlunya evaluasi lebih lanjut pada penyakit medis atau psikiatris primer, batas penggunaan adalah 7-10 hari, sakit kepala pada pasien yang menunjukkan sinyal-sinyal atau simptom depresi saat menggunakan dosis 20 mg hs.

 Zolpidem
Sedatif-hipnotik dari kelas imidazopyridin, memiliki waktu aksi yang cepat, pilihan pertama dalam pengobatan gangguan memulai tidur, tidak memiliki efek sedasi residual yang signifikan di pagi hari.
Peringatan : pengawasan harus dilakukan pada orang-orang tua dengan performansi motor atau kognitif yang lemah, obat harus ditelan sekaligus (tidak boleh dibagi, dikunyah, atau dihancurkan).

 Eszopiclone
Nonbenzodiazepin dari kelas cyclopyrolone. Mekanisme dari obat ini masih belum diketahui namun diyakini bahwa eszopiclone berinteraksi dengan reseptor GABA dalam mengikat domain-domain yang berada di dekat reseptor benzodiazepin. Digunakan untuk meningkatkan kemampuan untuk mempertahankan tidur.
Peringatan : bisa menyebabkan disgeusia, sakit kepala, atau simptom mirip flu, efek-efek samping yang langka ketika digunakan bersama dengan hipnotik seperti amnesia jangka pendek, kebingungan, agitasi, halusinasi, depresi semakin memburuk, atau pikiran-pikiran bunuh diri, dosis yang tinggi dapat menyebabkan efek euforik yang mirip pada penggunaan diazepam 20 mg, kecemasan, mimpi-mimpi tidak normal, kemuakan, dan sakit perut mungkin terjadi sekitar 48 jam setelah penggunaan yang tidak diteruskan, harus digunakan secara hati-hati saat mengoperasikan mesin atau saat sedang mengendarai mobil.

 Triazolam
Menekan semua tingkatan CNS, kemungkinan dengan meningkatkan aktivitas GABA.
Peringatan : penggunaan yang hati-hati dan perlunya pengawasan bagi penderita disfungsi hati, menurunkan level albumin, penyakit-penyakit renal atau pulmonari, dapat menyebabkan sedasi sepanjang hari, kerusakan kognisi, dan meningkatnya resiko jatuh pada pasien yang sudah tua; penggunaan secara hati-hati bersama dengan depresan CNS lainnya.

 Estazolam
Memiliki waktu aksi yang lambat dan durasi yang lama, bagus bagi penderita insomnia dengan kesulitan untuk mempertahankan tidur.
Peringatan : penggunaan hati-hati pada pasien yang mengalami depresi; efek samping yang umumnya terjadi termasuk mengantuk, hipokinesia, pusing, dan koordinasi tidak normal.

 Temazepam
Memiliki waktu aksi dan waktu paro lebih lama, dapat membantu pasien insomnia dengan kesulitan untuk mempertahankan tidur.
Peringatan : gunakan secara hati-hati pada pasien depresi; efek samping umumnya ringan termasuk mengantuk, sakit kepala, gugup, dan pusing; penggunaan hati-hati bersama dengan depresan CNS lainnya, menurunkan level albumin, atau penyakit hati (dapat meningkatkan toksisitas).

 Amitriptylin
Antidepresan trisiklik dengan efek sedatif. Menghambat reuptake dari serotonin dan norepinephrin pada membran neuronal presinaptik, yang meningkatkan konsentrasi di dalam CNS.
Peringatan : efek samping yang umum terjadi adalah antikolinergik (retensi urine, konstipasi, dan pandangan kabur); penggunaan hati-hati pada gangguan konduksi lambung dan sejarah hipertiroidisme, kerusakan renal atau hepar, hindari pemakaian pada orang yang sudah lanjut usia.

 Doxepin
Meningkatkan konsentrasi serotonin dan norepinephrine di dalam CNS dengan menghambat proses reuptake yang dilakukan oleh membran neuronal presinaptik.
Peringatan : hati-hati terhadap penyakit kardiovaskular, gangguan konduksi, retensi urin, hipertiroidisme, dan pasien yang mendapatkan pengganti tiroid.

 Nortriptylin
Terbukti efektif dalam usaha pengobatan sakit kronis. Dengan menghambat reuptake serotonin dan norepinephrin yang dilakukan oleh membran neuronal presinaptik, obat ini meningkatkan konsentrasi sinaptik neurotransmitter di dalam CNS.
Peringatan : hati-hati terhadap gangguan konduksi lambung dan riwayat hipertiroidisme, kerusakan hepatis atau renal, hindari pemakaian pada orang yang sudah lanjut usia.

 Trazodon
Antidepresan non-trisiklik dengan waktu aksi yang singkat. Antagonis bagi reseptor 5-HT2 dan menghambat reuptake 5-HT.
Peringatan : efek samping yang umumnya terjadi antara lain mulut kering, pandangan kabur, konstipasi (sembelit), dan retensi urin; priapisme; hipotensi; dapat menyebabkan kantuk dan pusing, pasien yang menjalani pengobatan ini harus berhati-hati saat mengemudi atau saat sedang melakukan aktivitas-aktivitas lain yang membutuhkan kesiagaan, koordinasi atau ketangkasan.

 Nefazodon
Ditarik dari pasaran pada Mei 2004 karena adanya resiko hepatotoxicity.
Peringatan : hati-hati terhadap penyakit lambung, penyakit serebrovaskular; hentikan terapi jika terjadi priapisme.

 Mirtazapin
Menunjukkan aktivitas noradregenik dan serotonergik. Mirtazapine bertindak sebagai antagonis reseptor alpha2-adrenergic, sekaligus juga sebagai antagonis poten reseptor postsynaptic 5-HT2 dan 5-HT3. Akibatnya, mirtazapine bisa menstimulasi pelepasan norepinephrine dan serotonin.
Peringatan : dapat menyebabkan kantuk; hentikan pemakaian jika pasien menunjukkan gejala-gejala infeksi tenggorokan, demam, dan gejala-gejala lain; ide bunuh diri yang melekat dengan depresi; neutropenia.

 Ramelteon
o Ramelteon bekerja pada potensi reseptor agonist MT1/MT2 yang selektif
o Tidak menyebabkan kecanduan, toleransi, penyalahgunaan dan efek samping negatif seperti pada obat-obatan BZRA
o Merupakan anti-insomnia pertama dengan kandungan yang tidak mengontrol
Ramelteon telah diakui oleh Badan Administrasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) pada bulan Juli 2005 sebagai obat resep untuk gangguan tidur pertama dan satu-satunya anti insomnia yang bukan merupakan obat yang dikontrol dan tidak menunjukkan bukti terjadinya penyalahgunaan dan ketergantungan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan antidepresan sedatif-hipnotik antara lain :
 Penggunaannya sebaiknya dalam dosis efektif minimal
 Penggunaan di malam hari harus dikurangi pada sebagian besar pasien
 Obat-obatan sedatif-hipnotik dapat digunakan hingga 3-4 minggu
 Lebih disarankan menggunakan obat-obatan hipnotik yang bebas efek residual di pagi hari
 Obat-obatan hipnotik seperti zolpidem, zaleplon, triazolam, dan eszopiclone lebih disarankan jika permasalahan yang dialami adalah kesulitan untuk tidur. Jika penggunaannya untuk mempertahankan kondisi tidur sebaiknya menggunakan obat hipnotik yang memiliki waktu aksi lebih panjang seperti zolpidem-CR dan eszopiclone. Jika pasien mengalami depresi, antidepresan dengan efek menenangkan seperti trazodone dan mirtazapine dapat dipergunakan.
 Obat-obatan hipnotik tidak boleh digunakan bersama dengan alkohol karena dapat menimbulkan sedasi berlebihan atau timbulnya parasomnia
 Tidak boleh digunakan pada ibu hamil
 Penggunaan benzodiazepin harus secara hati-hati pada pasien yang menderita apnea karena dapat memperburuk keadaannya
 Pada pasien yang berusia lanjut sebaiknya diberikan dengan dosis yang kecil
 Pada sebagian besar pasien, resiko ketergantungan adalah rendah. Namun, harus dihindari penggunaan obat-obatan hipnotik ini pada pasien dengan sejarah penyalahgunaan zat
 Pada beberapa pasien mungkin akan terjadi rebound jika penggunaan obat-obatan ini dihentikan secara tiba-tiba. Oleh karena itu lebih disarankan menggunakan dosis yang kecil untuk mengurangi resiko rebound


Daftar Rujukan:
Nevid, Jeffrey S, et all. 2005. Psikologi Abnormal Edisi ke-5 jilid 2. Jakarta : Erlangga
Trull, Timothy J. 2005. Clinical Psychology 7th Edition. USA : Thomson Learning, Inc.
Passaro, Erasmo A. 2008. Insomnia. (Online : )
Susilowati, Pudji. 2008. Insomnia : Kategori Klinis. (Online : )


www.emedicinehealth.com/insomnia/page2_em.htm#Insomnia%20Causes

No comments:

Post a Comment